Kisah
MUSA AS-SAMIRI mengaku AHLI MAKRIFAT di hadapan NABI MUSA alaihis salaam &
BANI ISRAEL
===
Di
Susun oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN
NIDA AL-ISLAM
-----
<< DOWNLOAD PDF >>
28 Nov 2020
*****
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Firman
Allah SWT tentang Samiri yang mengaku bahwa dirinya ahli
ma'rifat alias bisa melihat ghaib :
﴿ قَالَ
فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ (95) قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ
فَقَبَضْتُ قَبْضَةٌ مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ
لِي نَفْسِي (96) ﴾
Berkata
Musa, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” Samiri
menjawab, 'Aku (bisa) melihat sesuatu yang mereka tidak (bisa) melihatnya, maka
aku ambil segenggam dari jejak rasul (yakni : jejak kaki kuda malaikat Jibril),
lalu aku melemparkannya dan demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Toha: 95
& 96).
Dan Firman
Allah SWT tentang Fir'aun yang mengaku bahwa dirinya adalah
ahli hakikat dan telah sampai pada tingkat wihdatul wujud yakni menyatu
dengan Tuhan Yang Maha Tinggi alias manunggaling kawula ing
gusti atau Lir Kadio Keris Melebu Ing Werongkone . Sehingga
Fir'aun mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan Yang Maha Tinggi, sebagaimana
yang tersebut dalam firman Allah SWT :
﴿ فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ
الْأَعْلَىٰ﴾
"Maka
dia [Fir'aun] berkata: "Akulah tuhan kalian yang paling tinggi". [QS.
An-Nazi'at : 24]
Samiri dan
Fir'aun sama-sama dari Mesir.
Perkataan Fira'un Ini mirip dengan perkataan
Ibnu ‘Arabi Al-Hatimi Ath-Tha’i (wafat 638 H), Imam Besar faham aqidah Wihdatul
Wujud , yang mengatakan :
“Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah
hamba".
Duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas
(melaksanakan syariat)? jika kau katakan: hamba, maka dia adalah
tuhan . Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi tugas?!”.
[Baca: Al Futuhat Al Makkiyah (seperti yang
dinukilkan oleh DR. Taqiyuddin Al Hilali dalam kitabnya Al Hadiyyatul
Haadiyah hal. 43)
Dan Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya yang lain Fushushul Hikam (hal.192) dia ngelindur :
“Sesungguhnya
orang-orang yang menyembah anak sapi, tidak lain yang mereka sembah kecuali
Allah.”
Bahkan dia memuji-muji Fira’un Ramses II dan
keyakinannya bahwa Firaun mati di atas keimanan, lalu dia mencela Nabi
Harun ’alaihis salam yang mengingkari kaumnya yang menyembah anak
sapi -yang semua ini jelas-jelas bertentangan dengan nash Al-Quran-, dan
keyakinan dia bahwa kafirnya orang-orang Nasrani adalah karena mereka hanya
mengkhususkan Nabi ‘Isa ‘alaihi salam sebagai Tuhan, yang kalau
seandainya mereka tidak mengkhususkannya maka mereka tidak dikafirkan. [Baca
: Fushushul Hikam (hal.187-188)
===
Siapa kah SAMIRI ?:
Dia
bernama Musa bin Zafar, tapi lebih terkenal dengan sebutan AS-SAAMIRI.
Samiri berasal dari bahasa Arab dan digunakan secara meluas oleh penduduk
Albania. Samiri adalah sebuah variasi dari “Samir” bagi pengguna bahasa
Albania, Arab, India dan Iran yang berasal dari bahasa Arab yaitu
“Samara”. Bentuk feminim dari “Samir” adalah
“Samira”.
Secara
etimologi kata Samiri sering dihubungkan dengan wilayah Samaria atau kerajaan
Israel Utara, meski belum ada bukti yang kuat mengenai keterkaitan antara
seorang Israel bernama Samiri dengan wilayah yang ditempati sebagian Bani
Israel di Utara Tanah Kana'an.
Pendapat
lain mengatakan nama Samiri adalah penisbatan kepada salah satu kabilah bani
Israil, sedangkan menurut pendapat lain mengatakan bahwa,
Musa Samiri adalah orang Bajarma, salah seorang penduduk yang menyembah sapi.
Ibnu Abbas
berkata dalam hadits al-Futuun:
“As-Saamiri
adalah seorang pria dari kaum yang menyembah sapi, tetangga bani Israail, dan
dia bukan salah satu dari Bani Israel, lalu dia ikut numpang pergi bersama
rombongan Musa alaihis salam dan Bani Israel ketika mereka berangkat”.
Ia
memiliki ilmu kebatinan dan sihir, sebuah ilmu yang ia dipelajari sewaktu
berada di Mesir. Dia pemeluk agama paganisme yang terdapat di Mesir Kuno.
Sebuah bukti penting yang mendukung kesimpulan ini adalah Samiri pernah membuat
patung anak sapi betina terbuat dari emas. Samiri telah membuat berhala itu
untuk bani Israel selama Musa pergi untuk mendapatkan wahyu. Patung anak sapi
tersebut terbuat dari emas yang dibakar , yang oleh Samiri dimasukkan segumpal
tanah, diyakini tanah itu bekas dilalui tapak kaki kuda malaikat Jibril ketika
Musa dan pengikutnya menyeberangi Laut Merah. Sehingga mulut sapi betina itu
bisa mengeluarkan suara.
Samiri
membuat patung tersebut terpengaruh oleh agama paganisme Mesir Kuno, ia meniru
dewa Hathor dan Aphis, dewa-dewi Mesir kuno, disembah sebagai sapi dewata
dari akhir 2700 S.M. selama dinasti kedua.
Gambar
: Patung Hathor sebagai seekor sapi.
SAMIRI
hingga kini dalam sekte QOBBAALAH di yakini sebagai salah seorang pendeta
tinggi Qabbala. Seorang pendeta yang berhasil mengajak Bani Israil saat eksodus
dari Mesir untuk menyembah anak sapi emas bertepatan saat Nabi Musa alaihis
salam berkhalwat di gunung Tursina-Sinai.
Saat ini
Qabala menjadi agama alternatif bagi sejumlah selebritis, para pejabat tinggi
dan Bisnismen Dunia.
Faktor apa
yang seolah menghipnotis minat sehingga Qabala menjadi pilihan mereka?
Doktrin
mistis Qabala merupakan induk dari segala ilmu sihir yang ada di dunia hingga
hari ini. Sebenarnya QOBBAALAH ini merupakan elemen eksternal yang menyusup ke
dalam agama Yahudi.
Yang
kemudian Qabala ini berkembang menjadi kepercayaan Yahudi yang amat RAHASIA
disampaikan pada anggota dari mulut ke mulut. Hanya orang-orang khusus yang
diperbolehkan mendengarnya.
Ajarannya
berupa ilmu sihir dan ritual pemujaan setan yang telah dikembangkan sejak
ribuan tahun. Secara harfiah Qabala (Qabala) bermakna tradisi lisan. Kata
Qobbaalah diambil dari bahasa Ibrani: qibil yang bermakna menerima atau tradisi
warisan. Dengan demikian ajaran Qabala mempunyai arti menerima doktrin ilmu
sihir (okultisme) secara turun temurun yang hanya diketahui oleh segelintir
orang.
Menurut
sejarah, Ordo Qabala telah berusia 4.000 tahun, sejak Nabi Ibrahim alaihis
salam meninggalkan Sumeria, akhirnya menyebar ke Mesir Kuno hingga Ke
Palestina.
Kemudian
Ordo Qabala dibentuk dan diberi nama Ordo Persaudaraan saat perpindahan Bani
Israil ke Babilonia yakni pada era Dinasti Ur ke 3 (2112 -2004 SM).
===
KISAH SAMIRI DAN PATUNG ANAK SAPI:
Disini
penulis akan menyebutkan Kisah SAMIRI dari dua sumber utama, yaitu:
Pertama:
Versi Al-Quran, yang
acuannya adalah Surat Toha.
Kedua:
Versi Atsar Ibnu Abbaas yang
terkenal dengan sebutan” حَدِيثُ
الْفُتُونِ الطَّوِيلِ”.
Sebutan
ini di ambil dari Firman Allah SWT “وَفَتَنّٰكَ
فُتُوْنًا”
artinya: dan Kami telah mengujimu dengan beberapa cobaan (yang berat) (QS.
Taha: 40)
===
PERTAMA:
KISAH SAMIRY DALAM
AL-QUR’AN:
Dalam
Surat Toha Allah SWT berfirman:
قَالَ
فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنۢ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ ٱلسَّامِرِىُّ ﴿85﴾
فَرَجَعَ
مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًا ە ۚ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَمْ يَعِدْكُمْ
رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا ە ۗ اَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ اَمْ اَرَدْتُّمْ
اَنْ يَّحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَخْلَفْتُمْ مَّوْعِدِيْ
﴿86﴾
قَالُوْا
مَآ اَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلٰكِنَّا حُمِّلْنَآ اَوْزَارًا مِّنْ
زِيْنَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنٰهَا فَكَذٰلِكَ اَلْقَى السَّامِرِيُّ ﴿87﴾
فَاَخْرَجَ
لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌ فَقَالُوْا هٰذَآ اِلٰهُكُمْ وَاِلٰهُ
مُوْسٰى ە ۙ فَنَسِيَ ﴿88﴾
اَفَلَا
يَرَوْنَ اَلَّا يَرْجِعُ اِلَيْهِمْ قَوْلًا ە ۙ وَّلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا
وَّلَا نَفْعًا ﴿89﴾
وَلَقَدْ
قَالَ لَهُمْ هٰرُوْنُ مِنْ قَبْلُ يٰقَوْمِ اِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهٖ ۚ وَاِنَّ
رَبَّكُمُ الرَّحْمٰنُ فَاتَّبِعُوْنِيْ وَاَطِيْعُوْٓا اَمْرِيْ ﴿90﴾
قَالُوْا
لَنْ نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا مُوْسٰى ﴿91﴾
قَالَ
يٰهٰرُوْنُ مَا مَنَعَكَ اِذْ رَاَيْتَهُمْ ضَلُّوْٓا ﴿92﴾
اَلَّا
تَتَّبِعَنِ ۗ اَفَعَصَيْتَ اَمْرِيْ ﴿93﴾
قَالَ
يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِيْ وَلَا بِرَأْسِيْ ۚ اِنِّيْ خَشِيْتُ اَنْ
تَقُوْلَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِيْ ﴿94﴾
Artinya:
Dia
(Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau
tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” (QS. Taha: 85)
Kemudian
Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia (Musa)
berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu
janji yang baik? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu atau kamu
menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu, mengapa kamu melanggar perjanjianmu
dengan aku?” (QS. Taha: 86)
Mereka
berkata, “Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri,
tetapi kami harus membawa beban berat dari perhiasan kaum (Fir‘aun) itu,
kemudian kami melemparkannya (ke dalam api), dan demikian pula Samiri
melemparkannya, (QS. Taha: 87)
Kemudian
(dari lubang api itu) dia (Samiri) mengeluarkan (patung) anak sapi yang
bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata, “Inilah Tuhanmu
dan Tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa.” (QS. Taha: 88)
Maka
tidakkah mereka memperhatikan bahwa (patung anak sapi itu) tidak dapat memberi
jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat mau-pun mendatangkan
manfaat kepada mereka? (QS. Taha: 89)
Dan
sungguh, sebelumnya Harun telah berkata kepada mereka, “Wahai kaumku!
Sesungguhnya kamu hanya sekedar diberi cobaan (dengan patung anak sapi) itu dan
sungguh, Tuhanmu ialah (Allah) Yang Maha Pengasih, maka ikutilah aku dan
taatilah perintahku.” (QS. Taha: 90)
Mereka
menjawab, “Kami tidak akan meninggalkannya (dan) tetap menyembahnya
(patung anak sapi) sampai Musa kembali kepada kami.” (QS. Taha: 91)
Dia (Musa)
berkata, “Wahai Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat
mereka telah sesat, (QS. Taha: 92)
(sehingga)
engkau tidak mengikuti aku? Apakah engkau telah (sengaja) melanggar
perintahku?” (QS. Taha: 93)
Dia
(Harun) menjawab, “Wahai putra ibuku! Janganlah engkau pegang janggutku
dan jangan (pula) kepalaku. Aku sungguh khawatir engkau akan berkata
(kepadaku), ‘Engkau telah memecah belah antara Bani Israil dan engkau tidak
memelihara amanatku.’” (QS. Taha: 94)
[Penulis
katakan: Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam SURAT AL-A’RAAF :
وَلَمَّا
رَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًا ۙ قَالَ بِئْسَمَا
خَلَفْتُمُوْنِيْ مِنْۢ بَعْدِيْ ۚ اَعَجِلْتُمْ اَمْرَ رَبِّكُمْ ۚ وَاَلْقَى
الْاَلْوَاحَ وَاَخَذَ بِرَأْسِ اَخِيْهِ يَجُرُّهٗٓ اِلَيْهِ ۗقَالَ ابْنَ اُمَّ
اِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوْنِيْ وَكَادُوْا يَقْتُلُوْنَنِيْ ۖ فَلَا تُشْمِتْ
بِيَ الْاَعْدَاۤءَ وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ﴿150﴾ قَالَ
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِاَخِيْ وَاَدْخِلْنَا فِيْ رَحْمَتِكَ ۖوَاَنْتَ اَرْحَمُ
الرّٰحِمِيْنَ ࣖ ﴿151﴾
Artinya:
Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia
berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama
kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa pun melemparkan
lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke
arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku
lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan
musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku
sebagai orang-orang yang zalim.” (QS. Al-A’raf: 150)
Dia (Musa)
berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke
dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang.”
(QS. Al-A’raf: 151) ]
Kita
kembali ke SURAT TOOHA, ayat 95-98:
Allah SWT
berfirman:
قَالَ
فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ (95) قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ
فَقَبَضْتُ قَبْضَةٌ مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ
لِي نَفْسِي (96) قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا
مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي
ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ
نَسْفًا (97) إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَسِعَ
كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (98)
Berkata
Musa, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” (95)
Samiri menjawab, 'Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka
aku ambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya dan demikianlah
nafsuku membujukku.” (96)
Berkata Musa, “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan
dunia ini (hanya dapat) mengatakan, “Janganlah menyentuh (aku).' Dan
sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat
menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. (97)
Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan
menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan). Sesungguhnya Tuhanmu
hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), selain Dia.
Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (98).
****
KEDUA:
SAMIRI versi ATSAR IBNU
ABBAAS “حَدِيثُ الْفُتُونِ”
Berikut
ini sebagian dari “Hadits al-Futuun” yang panjang (حَدِيثُ الْفُتُونِ الطَّوِيلِ):
Diriwayatkan
oleh al-Imam al-Buushairy dalam kitab “Itḥāf al-Khīrah al-Mahrah” 6/234 dengan sanad yang shahih
menurutnya. Dan disebutkan pula oleh Ibnu Katsir dalam kitab “Al-Bidāyah
wa an-Nihāyah” 16/225:
Telah memberi tahu kami Abdullah bin Muhammad.
Telah memberi tahu kami Yazid bin Haroun. Telah memberi tahu kami Asbagh bin
Zaid. Telah memberi tahu kami Al-Qasim bin Abi Ayyub. Telah memberi tahu saya
Saeed bin Jubair bahwa dia berkata:
سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ
عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى لِمُوسَى: ﴿وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا﴾ فَسَأَلْتُهُ عَنِ
الْفُتُونِ مَا هُوَ؟
Saya
bertanya kepada Abdullah bin Abbas tentang firman Allah Yang
Maha Kuasa kepada Musa:
"وَفَتَنّٰكَ
فُتُوْنًا"
Artinya: "dan
Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat)" (QS.
Taha: 40),
Lalu saya
bertanya kepadanya tentang FUTUUN, apa itu?:
-Karena
hadits ini terlalu panjang, maka kutipannya loncat ke inti masalah saja-:
Ibnu Abbas
berkata:
فَأَنْزَلَهُمْ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَنْزِلًا، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ: أَطِيعُوا هَارُونَ عَلَيْهِ
السَّلَامُ؛ فَإِنِّي قَدِ اسْتَخْلَفْتُهُ عَلَيْكُمْ، وَإِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي
عَزَّ وَجَلَّ، وَأَجَّلَهُمْ ثَلَاثِينَ يَوْمًا أَنْ يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ فِيهَا،
فَلَمَّا
أَتَى رَبَّهُ وَأَرَادَ أَنْ يُكَلِّمَهُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، وَقَدْ صَامَهُنَّ:
لَيْلَهُنَّ وَنَهَارَهُنَّ، وَكَرِهَ أَنْ يُكَلِّمَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرِيحُ
فَمِهِ رِيحُ فَمِ الصَّائِمِ، فَتَنَاوَلَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْ نَبَاتِ
الْأَرْضِ شَيْئًا فَمَضَغَهُ،
فَقَالَ
لَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ لَقِيَهُ: لِمَ أَفْطَرْتَ؟ -وَهُوَ أَعْلَمُ بِالَّذِي
كَانَ-
قَالَ:
يَا رَبِّ، إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُكَلِّمَكَ إِلَّا وَفَمِي طَيِّبُ الرِّيحِ،
قَالَ:
أَوَمَا عَلِمْتَ يَا مُوسَى أَنْ رِيحَ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدِي مِنْ رِيحِ
الْمِسْكِ؟ ارْجِعْ حَتَّى تَصُومَ عَشْرًا ثُمَّ ائْتِنِي،
فَفَعَلَ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَا أُمِرَ بِهِ.
فَلَمَّا
رَأَى قَوْمُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ لَمْ يَرْجِعْ إِلَيْهِمْ لِلْأَجَلِ
سَاءَهُمْ ذَلِكَ، وَكَانَ هَارُونُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَدْ خَطَبَهُمْ، فَقَالَ
لَهُمْ: خَرَجْتُمْ مِنْ مِصْرَ وَلِقَوْمِ فِرْعَوْنَ عِنْدِي عَوَارِي وَوَدَائِعُ،
وَلَكُمْ فِيهِمْ مِثْلُ ذَلِكَ، وَأَنَا أَرَى أَنْ تَحْتَسِبُوا مَا لَكُمْ عِنْدَهُمْ،
وَلَا أُحِلَّ لَكُمْ وَدِيعَةً اسْتُودِعْتُمُوهَا، وَلَا عَارِيَّةً، وَلَسْنَا بِرَادِّينَ
إِلَيْهِمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، وَلَا مُمْسِكِيهِ لِأَنْفُسِنَا، فَحَفَرَ حَفِيرًا،
وَأَمَرَ كُلَّ قَوْمٍ عَلَيْهِمْ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ؛ مِنْ مَتَاعٍ أَوْ حِلْيَةٍ
أَنْ يَقْذِفُوهُ فِي ذَلِكَ الْحَفِيرِ، ثُمَّ أَوْقَدَ عَلَيْهِ النَّارَ، فَأَحْرَقَهُ،
فَقَالَ: لَا يَكُونُ لَنَا، وَلَا لَهُمْ.
وَكَانَ
السَّامِرِيُّ رَجُلًا مِنْ قَوْمٍ يَعْبُدُونَ الْبَقَرَ جِيرَانٍ لَهُمْ، وَلَمْ
يَكُنْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَاحْتَمَلَ مَعَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَبَنِي
إِسْرَائِيلَ حِينَ احْتَمَلُوا، فَقُضِيَ لَهُ أَنْ رَأَى أَثَرًا، فَأَخَذَ مِنْهُ
بِقَبْضَتِهِ، فَمَرَّ بِهَارُونَ،
فَقَالَ
لَهُ هَارُونُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا سَامِرِيُّ، أَلَا تُلْقِي مَا فِي يَدَيْكَ؟
وَهُوَ قَابِضٌ عَلَيْهِ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ طِوَالَ ذَلِكَ،
فَقَالَ:
هَذِهِ قَبْضَةٌ مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ الَّذِي جَاوَزَ بِكُمُ الْبَحْرَ، وَلَا أُلْقِيهَا
لِشَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَدْعُوَ اللَّهَ إِذَا أَلْقَيْتُهَا أَنْ تَكُونَ مَا أُرِيدُ،
فَأَلْقَاهَا، وَدَعَا اللَّهَ هَارُونُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: أُرِيدُ أَنْ
يَكُونَ عِجْلًا، فَاجْتَمَعَ مَا كَانَ فِي الْحُفْرَةِ مِنْ مَتَاعٍ لَهُ، أَوْ حِلْيَةٍ،
أَوْ نُحَاسٍ، أَوْ حَدِيدٍ، فَصَارَ عِجْلًا أَجْوَفَ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ، لَهُ خُوَارٌ.
قَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ: لَا وَاللَّهِ مَا كَانَ لَهُ صَوْتٌ قَطُّ، إِنَّمَا كَانَتِ الرِّيحُ
تَدْخُلُ مِنْ دُبُرِهِ وَتَخْرُجُ مِنْ فَمِهِ، فَكَانَ ذَلِكَ الصَّوْتُ مِنْ ذَلِكَ.
فَتَفَرَّقَ بَنُو إِسْرَائِيلَ فِرَقًا؛
فَقَالَتْ
فِرْقَةٌ: يَا سَامِرِيُّ، مَا هَذَا فَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ؟ قَالَ: هَذَا رَبُّكُمْ
عَزَّ وَجَلَّ، وَلَكِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَضَلَّ الطَّرِيقَ.
وَقَالَتْ
فِرْقَةٌ: لَا نُكَذِّبُ بِهَذَا حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى، فَإِنْ كَانَ رَبَّنَا
لَمْ نَكُنْ ضَيَّعْنَاهُ وَعَجَزْنَا فِيهِ حِينَ رَأَيْنَاهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ
رَبَّنَا، فَإِنَّا نَتَّبِعُ قَوْلَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ.
وَقَالَتْ
فِرْقَةٌ: هَذَا عَمَلُ الشَّيْطَانِ، وَلَيْسَ بِرَبِّنَا، وَلَا نُؤْمِنُ، وَلَا
نُصَدِّقُ.
وَأُشْرِبَتْ
فِرْقَةٌ فِي قُلُوبِهِمُ التَّصْدِيقَ بِمَا قَالَ السَّامِرِيُّ فِي الْعِجْلِ، وَأَعْلَنُوا
التَّكْذِيبَ،
فَقَالَ
لَهُمْ هَارُونُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ﴾ [طه:
90]، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ هَكَذَا،
قَالُوا:
فَمَا بَالُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ؛ وَعَدَنَا ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ أَخْلَفَنَا،
فَهَذِهِ أَرْبَعُونَ قَدْ مَضَتْ؟!
فَقَالَ
سُفَهَاؤُهُمْ: أَخْطَأَ رَبَّهُ، فَهُوَ يَطْلُبُهُ وَيَتْبَعُهُ.
فَلَمَّا
كَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَالَ لَهُ مَا قَالَ،
أَخْبَرَهُ بِمَا لَقِيَ قَوْمُهُ بَعْدَهُ.
﴿فَرَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا﴾ [طه: 86]، وَقَالَ
لَهُمْ مَا سَمِعْتُمْ فِي الْقُرْآنِ، وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ، وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ
مِنَ الْغَضَبِ، ثُمَّ عَذَرَ أَخَاهُ بِعُذْرِهِ، وَاسْتَغْفَرَ لَهُ، وَانْصَرَفَ
إِلَى السَّامِرِيِّ،
فَقَالَ
لَهُ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟
قَالَ:
قَبَضْتُ قَبْضَةٌ مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ وَفَطِنْتُ لَهَا، وَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ،
فَقَذَفْتُهَا؛ وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي.
﴿قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ
وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ
عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا﴾ [طه: 97]،
وَلَوْ كَانَ إِلَهًا لَمْ يُخْلَصْ إِلَى ذَلِكَ مِنْهُ.
فَاسْتَيْقَنَ
بَنُو إِسْرَائِيلَ بِالْفِتْنَةِ، وَاغْتَبَطَ الَّذِينَ كَانَ رَأْيُهُمْ فِيهِ مِثْلَ
رَأْيِ هَارُونَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالُوا بِجَمَاعَتِهِمْ لِمُوسَى عَلَيْهِ
السَّلَامُ: سَلْ لَنَا رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَفْتَحَ لَنَا بَابَ تَوْبَةٍ
نَصْنَعُهَا؛ فَيُكَفِّرَ عَنَّا مَا عَمِلْنَا،
فَاخْتَارَ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِذَلِكَ -لَا يَأْلُو الْخَيْرَ-
خِيَارَ بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَمَنْ لَمْ يُشْرِكْ فِي الْعِجْلِ. فَانْطَلَقَ بِهِمْ
لِيَسْأَلَ لَهُمُ التَّوْبَةَ، فَرَجَفَتْ بِهِمُ الْأَرْضُ، فَاسْتَحْيَا نَبِيُّ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْمِهِ وَوَفْدِهِ حِينَ فُعِلَ
بِهِمْ مَا فُعِلَ، فَقَالَ: ﴿رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ
أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا﴾ [الأعراف: 155]، وَفِيهِمْ مَنْ قَدْ
كَانَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اطَّلَعَ عَلَى مَا أُشْرِبَ قَلْبُهُ مِنْ حُبِّ الْعِجْلِ
وَإِيمَانِهِ بِهِ؛ فَلِذَلِكَ رَجَفَتْ بِهِمُ الْأَرْضُ.
فَقَالَ:
﴿وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ﴾ [الأعراف:
156] إِلَى: ﴿فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ﴾ [الأعراف: 157]،
فَقَالَ:
رَبِّ سَأَلْتُكَ التَّوْبَةَ لِقَوْمِي، فَقُلْتَ: إِنَّ رَحْمَتِي كَتَبْتُهَا لِقَوْمٍ
غَيْرِ قَوْمِي، فَلَيْتَكَ أَخَّرْتَنِي حِينَ تُخْرِجُنِي حَيًّا فِي أُمَّةِ ذَلِكَ
الرَّجُلِ الْمَرْحُومَةِ،
فَقَالَ
اللَّهُ لَهُ: إِنَّ تَوْبَتَهُمْ أَنْ يَقْتُلَ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَنْ لَقِيَ
مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ، فَيَقْتُلَهُ بِالسَّيْفِ لَا يُبَالِي مَنْ قَتَلَ فِي
ذَلِكَ الْمَوْطِنِ، وَتَابَ أُولَئِكَ الَّذِينَ كَانَ خَفِيَ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ
عَلَيْهِمَا السَّلَامُ مَا اطَّلَعَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ ذُنُوبِهِمْ، فَاعْتَرَفُوا
بِهَا، وَفَعَلُوا مَا أُمِرُوا، وَغَفَرَ اللَّهُ لِلْقَاتِلِ وَالْمَقْتُولِ.
ثُمَّ
سَارَ بِهِمْ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مُتَوَجِّهًا نَحْوَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ،
وَأَخَذَ الْأَلْوَاحَ بَعْدَمَا سَكَتَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَأَمَرَهُمْ بِالَّذِي
أُمِرَ بِهِ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ مِنَ الْوَظَائِفِ، فَثَقُلَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، وَأَبَوْا
أَنْ يُقِرُّوا بِهَا، فَنَتَقَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَبَلَ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ، وَدَنَا
مِنْهُمْ حَتَّى خَافُوا أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِمْ، فَأَخَذُوا الْكِتَابَ بِأَيْمَانِهِمْ
وَهُمْ يَصْغُونَ يَنْظُرُونَ إِلَى الْجَبَلِ وَالْأَرْضِ، وَالْكِتَابُ بِأَيْدِيهِمْ
وَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَى الْجَبَلِ؛ مَخَافَةَ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِمْ.
ثُمَّ
مَضَوْا إِلَى الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ ....... إِلَى آخِرِ حَدِيثِ الْفُتُونِ.
Artinya:
Maka
Musa -alaihsi salam- membawa mereka ke sebuah lokasi, lalu berkata kepada
mereka:
“Patuhilah
Harun -alaihsi salam-! Karena aku telah mempercayakan dia bersama kalian, dan
aku akan menghadap Tuhanku, Yang Mulia dan Maha Agung”.
Dan
Dia memberi tempo kepada mereka selama tiga puluh hari untuk kembali kepada
mereka.
Ketika
Musa datang kepada Tuhannya dan ketika dia ingin berbicara dengan Nya, dia
telah berpuasa selama tiga puluh hari, siang dan malamnya , namun karena dia
tidak suka berbicara kepada Tuhannya, Yang Mulia dan Maha Agung dalam keadaan
bau di mulutnya, mulut orang yang berpuasa ; maka Musa alaihis salam mengambil
sesuatu dari tanaman-tanaman di bumi dan mengunyahnya.
Kemudian
Tuhannya Yang Mulia dan Maha Agung berkata kepadanya ketika dia bertemu
dengannya: “Mengapa kamu berbuka puasa?” -Dan Dia sebetulnya lebih tahu kenapa-
Musa
pun menjawab: Ya Tuhan, aku tidak suka berbicara kepadamu kecuali dalam keadaan
bau mulutku wangi.
Allah
SWT berfirman: “Tahukah kamu, hai Musa, bahwa bau nafas mulut orang yang
berpuasa lebih baik bagiku daripada bau misk? Kembalilah berpuasa selama
sepuluh hari, lalu datang lah kepada ku”.
Lalu
Musa alaihis salam melakukan apa yang diperintahkan.
Ketika
kaum Nabi Musa alaihis salam melihat bahwa Musa alaihis salam belum juga datang
kembali kepada mereka pada waktu yang telah ditentukan, ini memperburuk pikiran
mereka, dan Nabi Harun alaihis salam pun berusaha menenangkannya dengan
mengkhutbahi mereka, Lalu dia berkata kepada mereka: “Kalian ini keluar dari
Mesir, sementara kaumnya Firaun memiliki barang-barang simpanan (perhiasan dan
lainnya) yang dititipkan kepada kalian dan juga barang-barang mereka yang
kalian pinjam dari mereka. Begitu juga mereka sebaliknya terhadap barang-barang
(perhiasan dan lainnya) milik kalian.
Dan
saya lihat sebaiknya kalian memperhitungkan apa-apa yang kalian miliki pada
mereka, dan tidak diperbolehkan bagi kalian untuk memiliki simpanan yang telah
kalian titipkan pada mereka, begitu juga apa-apa yang kalian pinjamkan kepada
mereka, dan kami juga tidak akan mengembalikan kepada mereka apapun dari semua
itu, dan kami juga tidak menyimpannya untuk diri kami sendiri”.
Lalu
beliau menggali lubang, dan memerintahkan atas setiap orang untuk melakukan
sesuatu. Yaitu melempar barang-barang tsb ke dalam lubang itu, lalu menyalakan
api di atasnya, lalu membakarnya, dan dia berkata: “Barang-barang Itu bukan
untuk kita, dan bukan untuk mereka”.
As-Saamiri
adalah seorang pria dari kaum yang menyembah sapi, tetangga bani Iraail, dan
dia bukan salah satu dari Bani Israel, lalu dia ikut numpang pergi bersama
rombongan Musa alaihis salam dan Bani Israel ketika mereka berangkat.
Lalu
dia mengklaim bahwa dirinya melihat jejak Rosul, dan dia mengambil darinya
dengan genggamannya. Maka dia lewat di depan Nabi Harun, lalu Harun berkata
kepadanya: Wahai Samiri, tidak kah segera kau lemparkan apa yang ada di kedua
tangan mu!
Dan
sebetulnya dia itu sudah lama menggenggam nya akan tetapi selama itu pula tidak
ada seorang pun yang melihatnya.
Dia
berkata: Ini adalah genggaman dari jejak Rasul yang membantu kalian melewati
laut, dan aku tidak akan melemparkannya untuk apa pun kecuali jika kamu berdoa
kepada Allah bahwa jika aku melemparkannya, maka ia berubah menjadi apa yang
kuinginkan, jika engkau bersedia maka aku siap melemparkannya.
Dan
Nabi Harun pun berdoa kepada Allah SWT, dan as-Saamiri berkata: “Aku ingin dari
genggaman ini menjadi anak sapi “, dan semua yang ada di dalam lubang dari
berbagai jenis barang baik perhiasan, tembaga, atau pun besinya terhimpun jadi
satu, lalu itu semua berubah menjadi anak lembu yang berlubang yang tiada
ruhnya namun mengeluarkan KHUAR (خوار = suara
sapi).
Ibn
Abbas berkata:
Tidak,
demi Tuhan, dia tidak pernah bersuara, melainkan angin masuk dari duburnya dan
keluar lewat mulutnya, dan suara itu berasal dari sana.
Maka
Bani Israel terpecah menjadi beberapa kelompok
Sekelompok
orang berkata: Hai Samiri, apa ini, dan kamu lebih alim dalam hal ini? Dia
berkata: Ini adalah Tuhanmu Yang Maha Mulia dan Maha Agung, akan tetapi Musa
itu tersesat.
Dan
sekelompok yang lain berkata: Kami tidak akan mendustakannya sampai Musa
kembali kepada kami. Maka jika dia itu adalah Tuhan kami, kami tidak
menyia-nyiakannya dan kami merasa tidak mampu terhadap nya ketika kami
melihatnya. Dan jika dia bukan Tuhan kami, maka kami mengikuti perkataan Musa
alaihis salam
Sebuah
kelompok berkata: Ini adalah pekerjaan Setan, dan itu bukan Tuhan kami, dan
kami tidak mengimaninya dan tidak pula membenarkannya.
Dan
ada sekelompok orang yang diresapkanlah ke dalam hati mereka itu rasa percaya
terhadap apa yang di katakan Saamiri tentang patung anak sapi, bahkan mereka
terang-terangan mendustakan Musa alaihis salam.
Harun - alaihis salam - berkata
kepada mereka:
﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ﴾
“Wahai
kaumku! Sesungguhnya kamu hanya sekedar diberi cobaan (dengan patung anak sapi)
itu” [Taha: 90],
Dan
Tuhanmu tidak seperti itu.
Mereka
berkata: Lalu Apa yang telah menimpa Musa, dia telah menjajikan kepada kami
tiga puluh hari, kemudian dia menyelisihi kami, dan ini empat puluh hari telah
berlalu?!
Orang-orang
bodoh berkata: Dia itu salah memilih tuhan, tapi dia masih terus mencarinya dan
mengikutinya.
Maka
ketika Allah Azza wa Jalla berbicara kepada Musa alaihis salam, Dia mengatakan
kepadanya apa yang di katakan oleh sebagian kaumnya, dan Dia memberi tahu
kepadanya apa yang terjadi dengan kaumnya setelah kepergiannya.
﴿فَرَجَعَ
مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا﴾
“Kemudian
Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati” (QS. Taha: 86)
Ibnu Abbas
berkata:
Dan dia
memberi tahu mereka apa yang kamu dengar dalam Al-Qur'an dan dia memegang
kepala saudara laki-lakinya dan melemparkan louh-louh itu karena marah, lalu
dia memaafkan saudaranya setelah mendengar alasannya, dan
Musa
memohonkan ampunan untuknya, dan mendatangi Samiri,
Musa
alaihis salam berkata kepadanya:
Apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?
Samiri menjawab: aku ambil segenggam dari jejak rasul dan
aku benar-benar melihatnya, sementara kalian dibutakan, lalu aku
melemparkannya. Dan demikianlah nafsuku membujukku.”.
﴿قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا
مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي
ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ
نَسْفًا﴾
Berkata
Musa, “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan dunia
ini (hanya dapat) mengatakan, “Janganlah menyentuh (aku).' Dan
sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat
menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya.
Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya
ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)”. (QS. Toha: 97)
Jika dia
itu benar tuhan, maka dia tidak akan bisa dilenyapkan olehnya.
Maka Bani
Israel semakin yakin akan godaan itu, dan mereka yang sependapat dengan Nabi
Harun merasa senang , lalu mereka dengan jemaahnya berkata kepada Musa alaihis
salam:
“Mohonkanlah
kepada Rabb mu Azza wa Jalla untuk kami agar Dia membukakan untuk kami pintu
taubat agar kami melakukannya, lalu Dia menghapus dari kami dosa yang telah
kami lakukan”.
Untuk itu lalu
Musa alaihis salam memilih dari kaumnya tujuh puluh lelaki pilihan – dia
berusaha keras memilih yang terbaik - dari bani Israel, dan orang-orang yang
tidak terlibat dalam penyembahan anak sapi.
Maka
berangkatlah Musa alaihis salam bersama mereka untuk memohon kepada Rabbnya
cara bertaubat untuk mereka, lalu tiba-tiba bumi yang mereka pijak berguncang,
maka Musa alaihis salam merasa malu kepada kaumnya dan para delegasinya ketika
dia merasa di perlakukan seperti itu. Maka Musa alaihis salam berkata:
﴿رَبِّ
لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ
السُّفَهَاءُ مِنَّا﴾
“Ya
Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku
sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang
yang kurang berakal di antara kami? (QS. Al-A’raf: 155)
Dan di
antara mereka terdapat orang-orang yang mana Allah ﷺ telah melihat nya termasuk orang yang
telah diserap di dalam hatinya rasa cinta terhadap anak sapi dan beriman
kepadanya. Oleh karena itu bumi berguncang bersama mereka.
Musa
berkata:
﴿وَرَحْمَتِيْ
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ
الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ ۚ (156) اَلَّذِيْنَ
يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ
مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ.... (157)﴾
“Dan
rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi
orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman
kepada ayat-ayat Kami.” (156)
(Yaitu)
orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada
mereka,.... (QS. Al-A’raf: 156-157)
Dia
berkata: Ya Tuhanku, aku memohon kepada Mu cara bertobat untuk kaumku, lalu
Engkau katakan: Rahmatku telah dituliskan untuk orang-orang selain dari kaumku,
duhai alangkah baiknya jika Engkau akhirkan aku, yaitu Engkau keluarkan aku
hidup di dunia pada masa umat nya seorang lelaki yang Kau rahmati.
Allah
SWT berkata kepadanya: Cara Taubat mereka adalah bahwa setiap orang dari mereka
membunuh siapa saja yang dia temui, baik orang tua atau anak, serta membunuhnya
dengan pedang, Tidak peduli siapa yang terbunuh di tempat itu
Dan
bertobat pula orang-orang yang berbuat dosa namun tidak diketahui oleh Musa dan
Harun alaihis salam akan dosa-dosanya, lalu mereka mengakui nya, dan melakukan
apa yang diperintahkan kepada mereka. Dan Allah SWT mengampuni yang membunuh
dan yang terbunuh...”.
[Penulis
katakan:
Ini
mengisyaratkan pada Firman Allah SWT dalam Surat al-Baqarah:
﴿وَاِذْ
قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ
بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا
اَنْفُسَكُمْ ۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْ ۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْ
ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ﴾
Dan
(ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Kamu
benar-benar telah menzhalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak
sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan
bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima
tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (QS.
Al-Baqarah: 54) ]
Kemudian
Ibnu Abbas berkata:
Kemudian
Musa alaihis salam melanjutkan perjalanan bersama mereka, menuju Baitul Maqdis,
dan mengambil kembali lauh-lauh setelah amarahnya reda, dan dia memerintahkan
mereka dengan apa yang diperintahkan untuk memberi tahu mereka tentang
kewajiban-kewajiban nya.
Dan mereka
merasa keberatan dan menolak untuk menerimanya, maka Allah SWT mengangkat
gunung ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu naungan awan, dan kami
mendekatkannya kepada mereka sampai mereka merasa takut (gunung) itu akan jatuh
menimpa mereka, maka pada akhirnya mereka menerima Kitab itu dengan keimanan
mereka
Mereka
mendengarkannya sambil memandangi gunung dan bumi, dan Kitab itu berada di
hadapan mereka sambil memandangi gunung, karena takut jatuh pada mereka.
[Penulis
katakan: Ini
mengisyaratkan kepada Firman Allah SWT:
﴿وَاِذْ
نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَاَنَّهٗ ظُلَّةٌ وَّظَنُّوْٓا اَنَّهٗ وَاقِعٌۢ
بِهِمْ ۚ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاذْكُرُوْا مَا فِيْهِ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ﴾
“Dan
(ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka, seakan-akan (gunung)
itu naungan awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka.
(Dan Kami firmankan kepada mereka), “Peganglah dengan teguh apa yang
telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang
tersebut di dalamnya agar kamu menjadi orang-orang bertakwa.” (QS. Al-A’raf:
171)]
Kemudian mereka pergi melanjutkan perjalanannya menuju Baitul Maqdis..... dst
sampai akhir hadits al-Futuun”. [ Selesai ]
****
TAFSIR FIRMAN ALLAH TENTANG PERKATAAN SAMIRI:
﴿قَقَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةٌ
مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي (96)﴾
Samiri
menjawab, 'Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku
ambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya dan demikianlah
nafsuku membujukku.” (96)
Ibnu Abbas
mengatakan dalam hadits al-Futuun di atas:
فَقَالَ
لَهُ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: قَبَضْتُ قَبْضَةٌ مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ
وَفَطِنْتُ لَهَا، وَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ، فَقَذَفْتُهَا؛ وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي
نَفْسِي.
“Musa
alaihis salam berkata kepadanya: Apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?
Samiri menjawab: aku ambil segenggam dari jejak rasul dan aku sangat
memahaminya, sementara kalian semua dibutakan, lalu aku melemparkannya. Dan
demikianlah nafsuku membujukku. “
===
TAFSIR PERKATAAN SAMIRI:
“Maka
aku ambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya”
Ibnu
Katsir memberi penjelasan yang
antara lain dia menerangkan :
"Bahwa
jejak rasul tersebut adalah jejak kuda tunggangan Malaikat Jibrail. Penafsiran
ini diterima secara umum oleh ahli-ahli tafsir lain selain Ibnu Katsir.
Apa yang
dimaksudkan dengan segengam dari jejak rasul itu adalah Samiri telah mengambil
segenggam tanah yang dipijak oleh kuda Maiaikat Jibrail.
Mujahid
mengatakan sehubungan
dengan firman-Nya: maka aku ambil segenggam dari jejak rasul. (Thaha: 96):
“Yakni
dari bekas teracak kuda yang dinaiki Malaikat Jibril. Yang dimaksud dengan
Qobdloh (قَبْضَةٌ) ialah
segenggam tanah, yakni sepenuh kedua telapak tangan”.
Mujahid
melanjutkan kisahnya, bahwa:
“lalu
Samiri melemparkan apa yang digenggam tangannya itu ke dalam tumpukan perhiasan
Bani Israil, maka tercetaklah dari leburannya sebuah patung anak lembu yang
bertubuh dan bersuara akibat masuknya angin ke dalam rongga tubuhnya”.
Ibnu Abu
Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah
menceritakan kepada kami Ali ibnul Madini, telah menceritakan kepada kami Yazid
ibnu Zurai', telah menceritakan kepada kami Imarah, telah menceritakan kepada
kami Ikrimah:
“Bahwa
Samiri melihat utusan itu (sedangkan orang lain tidak melihatnya). Lalu ada
yang membisikkan kepadanya, “Jika kamu mengambil segenggam dari jejak
utusan ini, lalu kamu lemparkan pada sesuatu dan kamu katakan kepadanya,
'Jadilah kamu anu,' maka jadilah ia (menuruti kemauanmu).”
****
ADAPUN
TAFSIR PERKATAAN SAMIRI:
“Aku
mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya"
Dalam ayat
ini Samiri benar-benar mengaku bahwa dirinya punya kemapuan melihat yang ghaib
yang menunjukkan bahwa dirinya bukan sembarangan manusia, dia merasa
dirinya berada pada level AHLI MAKRIFAT yang punya kemampuan menyingkap tabir
ghaib, yang tidak di miliki orang lain. Dan sejatinya dia itu tidak lebih
dari pemuja iblis dan Syeithan.
Dalam ayat
tersebut diatas menunjukkan bahwa Samiri saat itu menyatakan bahwa dirinya
hanya baru sampai pada level Makrifat , belum sampai pada level Hakikat ,
berbeda dengan Fir'aun yang menyatakan bahwa dirinya telah sampai pada level
Hakikat .
Level
Makrifat dibawah level Hakikat.
Karena dalam keyakinan sekte Kebatinan dan Tareqat di nyatakan bahwa level
makrifat itu masih dalam tahap Bashiirah , yaitu baru bisa melihat yang ghaib
dan melihat Allah Yang Maha Ghaib, akan tapi belum menyatu dengan Allah SWT.
Sementara jika seseorang telah sampai pada level hakikat , maka dia betul-betul
telah menyatu dengan Allah SWT -katanya- yang dalam ilmu kejawen dikatakan
:
"Manungaling
Kawula Ing Gusti" atau "Lir Kadio Keris Melebu Ning
Werongkone".
Jika
sesorang sudah sampai level hakikat , maka dia boleh mengatakan : Aku adalah
Allah" atau "Allah adalah Aku". Sebagaimana yang disebutkan
dalam al-Quran tentang pengakuan Fir'aun .
﴿ فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ
الْأَعْلَىٰ﴾
"Maka
dia [Fir'aun] berkata: "Akulah tuhan kalian yang paling tinggi". [QS.
An-Nazi'at : 24]
****
QABBALA adalah sekte kebatinan dalam agama Yahudi.
Nama
"Qabbaaliyah” atau yang di kenal pula dengan sebutan” Kabaala” di
nisbatkan kepada kitab” Qabbaalah”. Sebuah kitab yang tertulis di dalamnya
Takwil rahasia dan tersembunyi terhadap kalimat-kalimat yang terdapat dalam
kitab Taurat. Topik-topik pembahasannya yang paling penting adalah rahasia
pengajaran-pengajaran dan kemungkinan membuka serta memecahkan rahasia
simbol-simbol, sandi-sandi atau rumusan kitab Taurat, begitu juga simbol
bilangan-bilangan dan huruf-huruf. (Baca: Al-Mu'jamul Falsafi karya DR. Jamil Syalbiya
jilid 2).
Secara
harafiah Qabala (Qabala) bermakna tradisi lisan. Kata Qobbaalah diambil dari
bahasa Ibrani: qibil yang bermakna menerima atau tradisi warisan. Dengan
demikian ajaran Qabala mempunyai arti menerima doktrin ilmu sihir (okultisme)
yang hanya diketahui oleh segelintir orang.
Doktrin
mistis Qabala merupakan induk dari segala ilmu sihir dan kebatinan yang ada di
dunia hingga hari ini.
Dan sudah
bisa dipastikan dan menjadi ciri khas doktrin-doktrin sesat seperti ini
senantiasa berusaha untuk merahasiakan kesesatannya. Dan akan membaiat para
calon para pengikutnya agar tidak membocorkannya, dengan ditakut-takuti kutukan
tujuh turunan jika melanggarnya atau yang semisalnya. Dan kadang dengan ancaman
bunuh.
Begitu
juga Qabala adalah kepercayaan Yahudi yang amat rahasia disampaikan pada
anggota dari mulut ke mulut. Ajarannya berupa ilmu sihir dan ritual pemujaan setan
yang telah dikembangkan sejak ribuan tahun.
Menurut
sejarah, Ordo Qabala telah berusia 4.000 tahun, sejak Nabi Ibrahim alaihis
salam meninggalkan Sumeria, akhirnya menyebar ke Mesir Kuno hingga Ke
Palestina. Ordo Qabala dibentuk dan diberi nama Ordo Persaudaraan saat
perpindahan Bani Israil ke Babilonia yakni pada era Dinasti Ur ke 3 (2112 -2004
SM).
===
MACAM-MACAM QABALA:
Ditinjau
dari segi pemahaman, Qabala terdiri dari 3 ordo: Ordo Hijau, Kuning, serta
Putih.
Ordo putih nyaris tidak teridentifikasi oleh peneliti. Hal
ini lebih disebabkan gerakannya sangat rahasia, dan mereka berkonsentrasi pada
misi politik.
Sedang ordo Hijau dan Kuning lebih menekankan pada aspek penyembahan terhadap Lucifer. Ajaran Qabala dirumuskan untuk menentukan jalannya peradaban manusia dengan membentuk satu pemerintahan dunia (E Pluribus Unum) di bawah kendali Yahudi.
****.
SEKTE PLATONISME MODERN
Sekte
QABALA ini telah menghasilkan para filsuf besar seperti Plato, Socrates dll,
juga faham Rasisme yang kemudian diadopsi Hitler untuk berkuasa.
Sekte
Platonisme moderen adalah hasil perpaduan antara filsafat Phitagoras, Plato dan
Aristoteles, kemudian di tambah dengan filsafat hinduisme. (Lihat Tarikhul
Fikril Arobi karya DR. Umar Farroukh hal. 130).
Plato (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, secara spesifik dari Athena. Ia adalah penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.
Plato
adalah salah satu dari para filosofi yang berpegang teguh pada konsep ajaran
rahasia secara sempurna (السِّرِّيَّةُ
التَّامَّةُ) dalam
menyampaikan pemikiran-pemikirannya tentang HAKIKAT dan MAKRIFAT yang ujungnya
akan mengantarkan pada faham perpaduan antara Filsafat, Kebatinan dan
Perdukunan.
Dia selalu
memaparkan satu pemikiran dengan ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda, dan
menjadikan setiap ungkapannya makna-makna yang berbeda atau makna-makna yang
kontradiksi, khususnya jika berkenanaan dengan masalah-masalah ketuhanan, maka dia
menyebutkannya dengan ungkapan yang mustahil bisa di fahami oleh setiap
manusia, dengan dalih bahwa cahaya yang mengalir dari HAKIKAT ini telah
menyilaukan mata-mata orang-orang awam, dan tidak mungkin bisa memahaminya
kecuali bagi orang-orang pilihan (KHUSUS) yang memiliki keistimewaan dalam
menghayati dengan seksama, dan itupun jika orang itu telah sampai pada tingkat
kesempurnaan alias MAKRIFAT sesuai dengan syarat-syarat tertentu yang telah
ditentukan jumlahnya.
Nampaknya
Plato ini telah mengikuti ajaran para dukun, tukang sihir dan tukang tenung
Mesir dan menyerap pengajaran-pengajaran sebagian para pendahulunya dari
kalangan para filosofi, baik pengajaran yang di dapatkan dengan cara rahasia
maupun yang dengan cara terbuka atau terang-terangan.
Untuk yang
pertama ini dia mengajarkan kepada para pengikutnya (yang berlevel KHUSUS) yang
benar-benar telah memeluk madzhabnya pengajaran-pengajaran yang di sampaikan
dengan cara SYAFAWI tidak tertulis, dia ajarkan semuanya tanpa ada yang di
sembunyikan. Dan yang kedua kepada orang-orang umum (yg berlevel AWAM), maka
dia mengajarkan kitabnya yang TERTULIS kepada mereka. (Lihat: Dairotul Ma'arif
karya Al-Muallim Petrus al-Bustany 4/65-66).
Pada tahun
231 M AMONIUS telah berhasil mendirikan sekolah” AL-HIKMAH” di sebuah lokasi
yang di sebut Lisiyom, maka dia membagi jadwal waktu pendidikannya seperti
berikut ini:
Setelah
Dzuhur dia gunakan untuk mengajar sahabat-sahabat karibnya dari kalangan para
pelajar dengan methode filsafat yang di rahasiakan, dan system
pendidikan-pendidikan ini di namakan pendidikan” kelas khusus”.
Dan di
waktu sore dia gunakan untuk mengajar orang-orang kebanyakan yang umum, dia
uraikan dan dia jelaskan pada mereka pelajaran-pelajaran yang kandungannya
lebih umum, dan pengajaran ini di namakan pendidikan” kelas umum / awam”.
(Lihat: Dairotul Ma'arif karya Al-Muallim Petrus al-Bustany 3/76, penulis
beragama Kristen).
Dan
berangkat dari sini serta berjalan di atas haluan Platonisme telah muncul pula
“Origanus” pemeluk kristen, murid Faylon, dan dia adalah orang yang pertama
kali menafsiri kitab Injil dengan tafsir romzy (simbolik dan rumusan) mengikuti
jejak konsep gurunya Faylon dan konsep Platonisme moderen.
Dan setiap
orang yang meneliti dengan seksama terhadap tafsir ini terkadang menemukan
adanya makna yang sangat pelik dan samar-samar, padahal yang di tafsirinya itu
adalah masalah-masalah yang sederhana dan nasehat-nasehat yang sangat jelas dan
gamblang. (Lihat: Dairotul Ma'arif karya Al-Muallim Petrus al-Bustany 4/65-66).
****
LEWAT ABDULLAH BIN SABA CS
FAHAM KEBATINAN, HAQIQAT DAN MAKRIFAT
MASUK DALAM UMAT ISLAM
Para pengikut Faylon yang bernama Abdullah
bin Saba pendeta Yahudi dan murid-muridnya telah berhasil mewariskan kepada
umat Islam peninggalan Faylon Yahudi. Yaitu mereka telah berusaha menafsiri
Al-Qur'an dengan tafsir romzy simbolik dan rumusan yang jauh bahkan sangat jauh
dari makna yang hakiki, mereka lakukan ini semua atas dasar persekongkolan
untuk tujuan besar demi kepentingan mereka.
Dan dalam langkah merealisasikan tujuannya
mereka menerapkan dasar-dasar konsep filsafat Platonisme moderen terhadap
mayoritas aqidah dan syariat Islam, serta memberikan pemahaman yang semu
terhadap orang-orang biasa atau awam, dengan mengatakan bahwa barang siapa yang
memahami makna batin maka dia akan mendapatkan kenaikan pada tingkat makrifat
dan tingkat yang tinggi.
Salah satu contoh takwil Ibnu Saba terhadap
ayat-ayat Al-Qur'an, yaitu takwilnya terhadap firman Allah SWT:
﴿ إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ
لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ ﴾
Arti sebenarnya: “Sesungguhnya yang
mewajibkan atasmu (hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikan ke
Tempat Kembali”.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya 4/595 menyatakan
bahwa yang di maksud dengan Tempat Kembali adalah Hari Kiamat dan Allah SWT
akan memintakan pertanggung jawaban pada mu (nabi Muhammad ﷺ) atas penyampaian segala sesuatu yang telah Allah wajibkan pada
mu”. Kemudian Ibnu Katsir berkata: Ini adalah pendapat yang tepat sasaran dan
bagus”.
Sementara Abdullah bin Saba Yahudi telah
menafsirinya dengan tafsir kebatinan yang menyimpang, sesat dan menyesatkan,
dia berkata: “Sungguh aku merasa aneh terhadap orang yang mengatakan bahwa nabi
Isa akan kembali (ke dunia) akan tetapi dia tidak mengatakan bahwa nabi
Muhammad juga akan kembali (ke dunia)”. Ini adalah takwilan dia yang
pertama terhadap makna-makna Al-Qur'an.
Dengan demikian dia telah menorehkan madzhab
kebatinan, diantaranya adalah keyakinan hidup kembali ke alam dunia, sebuah
keyakinan yang melatar belakangi munculnya madzhab Reinkarnasi, yang kemudian
di ikuti oleh semua gerakan-gerakan dan aliran-aliran yang mengkultuskan
individu atau orang-orang saleh.
Di sini Abdullah bin Saba nampak jelas sekali
telah melakukan rekayasa yang sangat mirip dengan para pendahulunya, persis
seperti yang pernah di lakukan oleh Faylon Yahudi dan sekte Kabaala dalam
merubah-rubah dan mentakwil Taurat dan Injil. Maka pertama-tama Abdullah bin
Saba Yahudi ini menyebarkan konsep wasiat, yaitu sebuah konsep yang menjelaskan
bahwa: Ali bin Thalib adalah wasiat nabi Muhammad SAW, yang kemudian sahabat
Ali ini di jadikan target sasaran untuk menerapkan rencana mereka, oleh karena
itu kita dapati Abdullah bin Saba menyatakan bahwa bagian ketuhanan telah
menyatu dengan Ali dan keturunannya.
Dan ini adalah jelas – jelas madzhab yang
merujuk kepada agama Yahudi dan Kristen yang sudah terkontaminasi oleh ajaran
filsafat Platonisme. (Baca: Tarikh Daulat Fatimiyah karya DR. Hasan Ibrahim
Hasan hal. 8, dan Firoqus Syiah karya An-Nubakhty hal. 19-20).
Yang melatar belakangi rencana jahat Yahudi
terhadap Islam ini adalah: ketika kaum Yahudi yang terusir dan terkucilkan ini
tidak mampu melakukan balas dendam dengan telak terhadap umat Islam, maka
mereka mencari tipu muslihat lain dan setrategi lain yaitu menciptakan firqoh
atau aliran baru dalam Islam agar umatnya saling gontok-gontokan dan pecah
belah. (Baca: Harokaatusy Syiah Al-Mutathorrifiin karya DR. Muhammad Jabir hal.
4-5).
Salah satu rencana mereka adalah dengan
menghadirkan Abdullah bin Saba atau yang di kenal pula dengan sebutan Ibu
Sauda, dia adalah seorang rahib Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam, dan
berusaha menampakkan seolah-olah sangat perhatian terhadap perkembangan agama
Islam, maka dengan demikian dia mampu menarik perhatian orang-orang saat itu
yang beranggapan bahwa kebijakan-kebijakan kholifah Ustman bin Affan itu telah
keluar dan tidak sejalan dengan kebijakan para pendahulunya kholifah Abu Bakar
dan Umar bin Khoththob. Dan strategi Ibnu Saba dalam menyebarkan
prinsip-prinsipnya di kemas dalam bentuk yang mengundang perhatian dan
membangkitkan emosional terhadap Utsman radhiyalahu ‘anhu. Dan di dalam kondisi
seperti ini si Yahudi yang pura-pura berpakain Islam ini berkesempatan untuk
mempengaruhi mereka agar melakukan pengecaman terhadap Utsman serta merendahkan
martabatnya. (Baca: Harokaatusy Syiah Al-Mutathorrifiin karya DR.
Muhammad Jabir hal. 5 dan Mausu'ah Tarikh Islami karya DR. Ahmad Syalaby
2/145-146).
Dengan demikian maka sesungguhnya Ibnu Saba ini adalah sumber semua gejolak
fitnah dan kekacauan politik yang mengguncang masyarakat Islam, dan wajarlah
jika DR. Ahmad Syalaby ketika berbicara tentang Ibnu Saba beliau berkata:
“Sesungguhnya pucuk pimpinan kesesatan pada
periode itu yang memulainya adalah Abdullah bin Saba atau seseorang yang
dikenal dengan nama tsb, dan juga murid-muridnya yang begitu banyak telah
menimba darinya kesesatan ini serta berjalan di atas jalannya dalam kurun waktu
yang lama dan periode-periode yang luas. Adapun nama dan sebutan tidak lah
penting, akan tetapi yang penting bagi kami adalah telah hadirnya sosok
seseorang yang telah melakukan peran penting yang di nisbatkan kepada Abdullah
bin Saba”. (Baca: Mausu'ah Tarikh Islami karya DR. Ahmad Syalaby 2/146
dan Al-Mahdiyah fil Islam karya Saad bin Muhammad Hasan hal. 92).
Di tambahkan lagi dalam sisi gejolak politik
menentang Ustman, disana ada finah lain yang jauh lebih berbahaya dari sekedar
masalah politik, yaitu usaha dan rekayasa musuh-musuh Islam yang ingin
menghancurkannya dari dalam, yaitu dengan setrategi menciptakan methode-methode
dan konsep-konsep ajaran kebatinan di dalam mentakwil syariah, pentakwilan yang
mengarahkan kepada penghapusan syariat atau menukarnya dengan campuran takwil
kebatinan yang aneh-aneh dengan menggunakan istilah” AL-HIKMAH / الْحِكْمَةُ “, yang sebenarnya adalah kumpulan dan campuran antara
ajaran-ajaran khurafat agama Majusi Persia, agama dewa-dewi Yunani dan
aqidah-aqidah Yahudi yang sudah mereka rubah-rubah dari sebelumnya. (Baca:
Dirosaat fil Falsafatil Islamiyah karya DR. Mahmud Qosim hal. 254).
Oleh sebab itu tidaklah heran jika tidak
selang berapa lama telah bemunculan aqidah-aqidah dan kepercayaan-kepercayaan
Yahudi yang di serap dari agama dewa-dewi Persia dan Yunani, yang di kemas
dengan baju Islam agar mudah untuk melakukan pengelabuan terhadap umat Islam,
umpanya dengan dengan istilah:
- Nur
Muhammadiyah, Nur Nubuwat.
- Para
imam yang sudah makrifat, mereka ma'sum (terjaga) dari dosa dan kesalahan.
- Karomat-karomat
sebagai tanda tingkat kema'rifatan seseorang.
- Seseorang
jika sudah makrifat maka dia lepas dari syariat, karena dia bisa
mendapatkan syariat langsung dari Allah (لَدُنِّيْ), maka dia boleh
meninggalkan sholat dan kewajiban-kewajiban lainnya serta boleh melakukan
maksiat, bahkan di haruskan berbohong agar hakikatnya tidak di ketahui
orang awam seperti dengan mengatakan sholat Jum'at nya di Makkah, padahal
dia sama sekali tidak sholat Jum'atan, atau dengan mengatakan shalat
fardlunya tidak kelihatan manusia, padahal dia tidak shalat sama sekali.
- Pengkultusan
dan pengagungan para imam, kiyai dan wali.
- Para
imam mereka hidup kembali di dunia setelah mati, mereka melihat kita,
mendengar, menyampaikan doa kita bahkan berdoa melaluinya sangat mustajab,
lebih mustajab dari pada semasa hidupnya yang pertama sebelum kematian.
- Tuhan
merasuki para imam mereka.
- Jasad
mereka menyatu dengan Tuhannya.
- Pentakwilan
dan pentasybihan.
- Dan
lain-lain sebagainya dari aqidah-aqidah dan pemikiran-pemikiran
kebatinan.
Aqidah – aqidah dan pemikiran-pemikiran di
atas bukanlah sesuatu yang baru, akan tetapi telah ada sebelum Islam,
ajaran-ajaran itu datang dari sebagian rahib-rahib Yahudi sebelumnya dan mereka
telah mentakwil kitab Tauret berdasarkan filsafat Platonisme moderen, dan telah
menjadi ajaran tetap pula bagi aliran atau sekte Yahudi Kabaala. Dan sekte ini
pula yang telah mengacau balaukan kitab Taurat dan merubah-rubahnya dengan
methode takwil, serta mereka merasa bangga dengan anggapan bahwa mereka telah
mampu dan berhasil memadukannya dengan takwil kebatinan, dan mereka
mengaku-ngaku bahwa dirinya mampu mendobrak alam gaib dan membuka kunci rahasia
huruf-huruf Taurat dan lainnya dengan cara yang jelas-jelas memadukan antara
konsep filsafat Yunani, Platonisme moderen dan dasar-dasar aqidah Majusi
Persia.
Methode dan konsep perpaduan ini telah nampak
jelas sekali di kancah para pakar filsafat di Yunani dan Iskandariah Mesir.
Konsep ini yang di kenal saat itu dengan sebutan seperti berikut:
JAM'IYAH AHLI MAKRIFAT
(جَمْعِيَّاتُ أَهْلِ الْعِرْفَانِ)
atau
JAM'IYAH GHONAUSHISME
(الْجَمْعِيَّاتُ
الْغُنُوصُيَّةُ)
Mereka menganggap bahwa Ilmu Kebatinan adalah
sebuah Makrifat yang turun ke hati mereka bercahaya atau wahyu langsung tanpa
melalui perantara dan tanpa ada yang mengajarinya. Jamiah-jamiah rahasia
ini sudah ada semenjak dahulu kala, dan telah banyak melakukan usaha-usaha
untuk mengganti agama yang di wahyukan dari Allah dengannya, temasuk mengganti
syariat Yahudi, Kristen dan Islam dengan cara menciptakan kekisruhan dan
kontrakdiksi syariat masing-masing yang selanjutnya kemudian menghantam
seluruhnya dengan sebagian pemikiran-pemikiran filsafat untuk pembuka jalan
agar maju ke depan dengan sebuah slogan yang mereka sebut:
“AGAMA UNIVERSAL”
(الدِّينُ الْعَالَمِيُّ)
Hal ini seperti yang pernah di singgung oleh para imam sufi yang berhaluan
faham wihdatul wujud Al-Hallaj, Al-Kattaany dan Ibnu 'Araby, mereka
berkeyakinan bahwa agama itu berdiri di atas dua prinsip:
- Cahaya
yang menyinari hati (الإِشْرَاقُ)
- Dan
pembukaan tabir ilahi/ Kasyaf (الْكَشْفُ).
Dan di sebagian mereka ada yang merujuk
kepada jenis keyakinan kafir yang betul-betul jelas dan asli kafir, karena
pertama-tama dia mencabut tabiat pengkultusan terhadap masing-msing individu
umat manusia, kemudian dia melampaui batas dalam mengkultuskannya, agar supaya
dengan mudah bisa mempengaruhi orang-orang awam untuk menerima konsep Allah
merasuki mereka atau menyatu dengannya, seperti yang telah menimpa kepada agama
Kristen, dan seperti yang telah berusaha di terapkan oleh sebagian orang-orang
yang menyatakan dirinya sebagai ahli tasawuf dari umat Islam, diantaranya
Penulis kitab Al-Qiyamatul Kubro, Al-Hasan bin Ash-Shabaah di benteng (Aal Maut
/ آلمَوْتُ) saat dia teriak-teriak mengatakan bahwa Al-Qur'an sudah di
hapus, dan mengumumkan bahwa dirinya adalah Tuhan”.
(Baca: Dirosat fil Falsafatil
Islamiyah karya DR. Mahmud Qosim hal. 256-257, al-Mujamul Falsafi karya Jamil
shaliba jilid 2, Al-Aqidah wasy Syari'ah fil Islam / Ta'liqoot Mutarjimiin hal.
25).
====
SELESAI ALHAMDULILLAH, SEMOGA BERMANFAAT
وَصَلَّى اللَّهُ
عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Di Tulis oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
2 Komentar
Alhamdulillah,, menambah wawasan ilmu yg bermanfaat
BalasHapusAlhandulillah
BalasHapus